Senin, 24 Juni 2013

Promise...!

 Sore hari menjelang di ufuk barat tergelincir paparan sinar merah matahari. Hari ini aku jalani dan aku akhiri dengan basuhan air wudhu di tujuh anggota tubuh ku. Bercermin di setiap tetesan air suci yang mengalir sayup di wajah ku. Tiga rakaat mengawali malam ku dengan penuh hikmat. Salam pun berbicara dan sekilas terfikikrkan oleh ku, dirimmu yang selalu mengingatkanku untuk menjalan rukun islam yang ke dua ini, aku pun teringat di saat kamu mengeluh akan keluhan ku tentang shalat, yang ku tunda dengan kemalasan yang sangat berlanjut.
 Aku pun membuka notebook mungil di atas meja belajarku, dengan penuh konsentrasi aku memperhatikan ruangan chat di mana kita akan berbicara via internet, yaa aku temuka dirimu, namamu, dan segala sesuatu yang membuatku jatuh bangun dalam mengejar semua harapan harapan itu namun.. ahsudahlah.. Aku pun badmoot dan menunggu diri mulah yang akan menegur ku terlebih dahulu. Karna aku takut mencuri waktumu dengan dirinya. Aku lihat dengan mata penuh air yang siap meluap dan jatuh tumpah membahasi pipiku. Tak sempatku bercermin sebenarnya siapa diriku ini? yang selalu bertanya tentang harapan kepadamu, dan kamu yang mengizinkan aku untuk segalanya,, yaa aku terlalu bodoh untuk bertanya padamu apa itu harapan. Karna dirimu jugalah yang sebenernya tidak pernah menganggap harapan itu ada dengan setulus segala pengorbanan danberharga dengan air mata.
 Tak ku sangka ada emot seperti itu di data dirinya, yang mencerminkan kalian benar benar serius dalam menjalaninya, diiringi dengan message yang menyatakan hal itu benar benar terjadi. Tubuhku terbujur kaku melihat semuanya.. tak ku sangka sungguh.
 Namun aku lupakan semuanya, bahwa dirimu telah berada di pihaknya, namun masih satu jemari kecil yang menyangkut di jari kelingkingku yang masih terkait erat dengan janji yang masih setia menemaniku dan mengingatkanku untuk selalu menjaga shalat ku dan terjaga dari senyum senyum kecil dan tawa yang selalu menggelitik perutku di saat aku berada di lingkupmu.
 Dan untuk kamu, yang memilikinya lebih dari apapun, aku sangat menganggap kaulah pilihannya dan kau juga tempatnya berteduh. Yang mendapatkan lebih dari senyuman kecil dan tawa yang selalu aku dapatkan. Entah dengan apa kau menerima cara dia berbicara, mungkin dirimu orang awam yang tak mengerti apa-apa tentangnya namun Tuhan mengizinkan diirimu untuk mengenal lebih jauh darinya dibanding aku yang sudah lama dan terlebih dulu sebelum dirinya terpampang nyata dalam duniagelap mu, yang sudah menarik perhatianku lebih awal yang telah menggantungkan harapanku padanya, ini pilihan.. dan kau harus memilih membuatnya hangat di dekatmu atau.. membiarkan dia bahagia sejenak dengan tawa di sekelilingnya namun gukan dirimu.. maka.. jagalah dirinya dengan baik, dan jangan kecewakan diriku yang telah meperjuangkan mengikhlaskan diirinya untukmu, promise..!

~Di ambil dari kolong langit yang mendung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar